Arsip:

2023

“Hacks to Preparing Your Future Career”: Seminar Karir Mahasiswa Sastra Arab

Rabu, 1 November 2023 – Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya UGM menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Hacks to Preparing Your Future Career”. Dalam pelaksanaannya, Prodi Sastra Arab berkolaborasi dengan Ikatan Mahasiswa Sastra Arab (IKMASA) dan turut menghadirkan narasumber yang ahli dalam bidangnya. 

Ibu Dr. Zufa Purnamawati, M.Hum., Ketua Program Studi Arab menyampaikan tentang pentingnya mempersiapkan karir sejak dini untuk. Sejalan dengan itu, beliau juga menyampaikan bahwa kesiapan harus selalu menyertai kesempatan yang datang tidak selalu ada.

“Kesuksesan di masa depan bukanlah hal yang tiba-tiba, akan tetapi hasil daripada apa yang telah kita persiapkan sejak dini.” Tutur beliau dalam penutup sambutannya.

Kegiatan ini dibentuk dalam dua sesi yang berbeda dan dipandu oleh moderator Okta Kurnia, mahasiswa Sastra Arab angkatan 2022. Sesi pertama adalah talkshow dengan Pakde Rusbandi seorang pengusaha besar asal Tegal yang mempunyai belasan perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, seperti pertambangan, pertanian, kesehatan, hingga travel umrah.

Pakde Rusbandi menyampaikan pengalamannya dalam dinamika mencapai jenjang karir yang ia mulai sejak lulus Sekolah Rakyat (SR) sampai STM Pertanian. Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, kemudian awal karirnya ia mulai menjadi kapten kapal yang hingga menjadi komisaris dan direktur di beberapa perusahaan yang dimiliki olehnya dan anak-anaknya. 

Secara implisit, beliau menyampaikan pentingnya kejujuran, semangat, dan komitmen terhadap pekerjaan dan memprioritaskan iman dan taqwa kepada Allah Swt. Hal ini beliau pertegas dengan pengalamannya dalam menjalani setiap jenjang karir yang ia lalui selama ini. Tak hanya itu, bentuk berbakti dan ta’dzim terhadap orang tua dan para guru adalah termasuk kunci kesuksesannya hingga saat ini. 

Kemapanan karir Pakde Rusbandi tidak terlepas dari hubungan personal dengan setiap orang. Beliau menyampaikan bahwa menjalin silaturahmi harus dijalin baik dengan siapapun tanpa memilih dan memilah teman. 

“Jalinlah cinta kasih dengan siapapun, sejak dunia hingga akhirat” Tutur beliau dalam penutup materinya.

Sesi selanjutnya adalah pelatihan “Crafting a Perfect CV” yang dibersamai oleh Nifa Andriani, alumni Sastra Arab 2015 yang sekarang menjadi HRD di sebuah perusahaan start-up yang berlokasi di Jakarta. Ia menyampaikan bahwa kunci kesuksesan ada tiga, yaitu: doa, networking, dan skill

Sebelum menyampaikan inti materinya, Nifa menyampaikan tentang peluang dan tantangan karir lulusan Sastra Arab dan sebagai generasi Z. Tidak hanya tantangan dari luar, tetapi tantangan juga datang dari internal perusahaan, seperti: ekspektasi perusahaan yang tinggi, dan beban pekerjaan yang lebih sulit.

Setelah itu, Nifa menyambung dengan apa yang harus dilakukan dan dihadapi oleh mahasiswa Sastra Arab khususnya. Ada beberapa hal yang harus disiapkan, diantaranya: pengalaman, asah skill, menyusun CV yang sesuai, menyusun rencana karir, dan mencari teman yang banyak sebagai relasi/networking. Selain itu, menurutnya sebagai sudut pandang seorang HR Specialist, dalam seleksi pekerja terdapat tiga hal yang dilalui ketika seleksi dan disebut dengan Golden Circle yang berisi CV, Interview, dan Linkedin.

Nifa menuliskan di dalam salindianya, “CV ibarat brosur, brand-nya adalah diri sendiri.” 

Dengan diadakannya seminar karir ini, diharapkan mahasiswa Sastra Arab UGM bisa lebih siap dan lebih matang dalam menghadapi tantangan pada dunia karir ketika lulus nanti.

Penulis: Sabik Hikami

Link dokumentasi

Kunjungan Ikatan Mahasiswa Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (IKMASA UGM) ke Balai Bahasa DIY

Yogyakarta, 29 September 2023 – Ikatan Mahasiswa program studi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (IKMASA UGM) mengadakan kunjungan keduanya yaitu ke Balai Bahasa D.I. Yogyakarta. Mengingat program studi Sastra Arab adalah disiplin ilmu yang berhubungan dengan bahasa, dan kita ketahui bahasa Arab bukan bahasa ibu melainkan bahasa Asing maka oleh sebab itu, kunjungan kali ini mengangkat tema yang berjudul “Implikasi Penggunaan Bahasa Asing dalam Kehidupan Sehari – hari

Acara IKMASA berkunjung atau lebih dikenal dengan ” SANJUNG” diadakan di Balai Bahasa D.I. Yogyakarta tepatnya di Aula S. Takdir Alisjahbana kali ini dibuka oleh Ibu Nindwihapsari S.S, yang merupakan salah satu staff yang ada di balai bahasa sebagai KKLP kamus dan Istilah, yang di mana tidak hanya itu saja tugas beliau tetapi juga mengurusi layanan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing ( BIPA ).

Selanjutnya penyampaian maksud dan tujuan dari kunjungan Ikatan Mahasiswa Sastra Arab UGM ke balai bahasa D.I.Yogyakarta  yang disampaikan oleh Sabik Hikami, mahasiswa Sastra Arab 21.  Sesi berikutnya adalah acara inti yaitu pemaparan materi oleh Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd., (Kepala Balai Bahasa D.I. Yogyakarta) bahwa Balai bahasa yang ada di Yogyakarta merupakan balai bahasa paling tua di Indonesia karena dulunya digunakan oleh seorang dokter Belanda dan juga merupakan kawasan kota baru yang 80%-nya punya peninggalan Belanda dan sekarang menjadi cagar budaya hal itu menandakan bahwa Yogyakarta memiliki komitmen yang kuat dalam melestarikan budaya yang ada.

Selanjutnya dijelaskan tiga Program Prioritas Badan Bahasa diantaranya adalah Literasi Kebahasaan dan Kesusastraan meliputi perkamusan dan peristilahan, Uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI), dan literasi. yang kedua yaitu Internasionalisasi Bahasa Indonesia meliputi bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) dan penerjemahan.  Yang ketiga perlindungan bahasa dan sastra meliputi perlindungan dan pemodernan. Semua itu diwujudkan dengan “TRIGATRA BANGUN BAHASA” yaitu utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Tidak hanya itu, Balai bahasa juga memiliki rencana pengembangan kegiatan lokal yang diantaranya adalah lomba membaca aksara jawa, pendampingan kepada komunitas, gerakan pengutamaan bahasa Indonesia, penggunaan aksara jawa, dan penataan bahasa asing di ruang publik, Krida duta bahasa yang meliputi jaga bahasa, niaga bahasa, abdi bahasa, lalu adanya BIPA dalam menyusun panduan berbahasa Jawa untuk WNA (satu minggu berbahasa jawa) dan pemeliharaan manuskrip yang tersimpan serta digitalisasi kamus.

Produk dan Layanan Badan Bahasa bermartabat bermanfaat yang bisa diakses yaitu KBBI, UKBI, BIPA, Sipedi, SPAI, Ensiklopedia sastra Indonesia, data pokok kebahasaan dan kesusastraan. Dari pemaparan materi di atas dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yaitu membahas  seputar bahasa slang yang digunakan oleh anak-anak milenial saat ini, dilihat pada kenyataannya bahwa bahasa akan selalu mengikuti zaman karena sifatnya dinamis dan pasti ada masanya jadi bahasa slang akan memudar penggunaannya dan tidak ada larangan di gunakan dalam obrolan sehari-hari jika sebagai selingan, asalkan jangan digunakan ketika dalam lingkungan formal tetapi tidak menutup kemungkinan kalau bahasa alay/slang itu masuk ke KBBI.

Kemudian acara selanjutnya dengan sesi penutup yaitu penyerahan plakat kepada pihak balai bahasa yang diberikan oleh Sabik Hikami sebagai kenang-kenangan atas kunjungan IKMASA UGM ke Balai bahasa D.I. Yogyakarta serta dilanjutkan sesi dokumentasi seluruh peserta yang hadir. Dengan diadakannya kegiatan “SANJUNG” ini diharapkan para mahasiswa Sastra Arab dan menerapkan penggunaan yang benar dalam kehidupan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah kebahasaan dan kesusastraan.

Dokumentasi selengkapnya

Penulis: Yesyailla Abzani Alfath

Raudhah Kitabah, Markaz al-Bahts wa al-Kitabah: Mesir Kuno dalam Pandangan Arab Muslim di Abad Pertengahan

Yogyakarta, 22 Agustus 2023 – Departemen Keilmuan IKMASA memprakarsai sebuah forum diskusi seputar bahasa, sastra, dan budaya Arab. Forum ini diberi nama “Raudhah Kitabah” yang memiliki arti taman karya, karena forum ini menjadi wadah atau tempat bagi mahasiswa Sastra Arab untuk membahas karya dan berkarya. Pemantik forum ini yaitu Zaky Shofiyurrahman, mahasiswa Sastra Arab 2022. Latar belakang pemantik dalam mengambil tema ini adalah keingintahuan ia sejak SMA tentang “Apa yang terjadi saat bangsa Arab menemukan monumen-monumen Mesir kuno; dan bagaimana mereka menjelaskan monumen-monumen tersebut”

Yang pertama, dari segi pendekatan sejarah. Bangsa Arab sendiri sangat menghargai studi sejarah. Mereka memiliki perasaan bahwa umat manusia mempunyai asal yang sama.

Tuhan menjadikan dalam diri kita kebutuhan akan pengetahuan tentang sejarah para pendahulu kita, sebagaimana kebutuhan para pendahulu kita akan sejarah para pendahulu mereka, dan sebagaimana kebutuhan orang-orang yang akan datang setelah kita untuk sejarah kita” Al-Jahiz (wafat 771 M) Al-Haywan 1: 42

Akan tetapi, seringkali umat Muslim dianggap bertekad untuk menghancurkan monumen budaya pra-Islam (berhala). Namun pada kenyataannya, umat muslim justru menyadari nilai dari monumen tersebut untuk mempelajari masa lalu. Selain itu, para penguasa Muslim merawat monumen-monumen tersebut karena dianggap memiliki manfaat, seperti:

  1. Monumen adalah bukti sejarah yang berguna untuk kronologi;
  2. Mereka memberikan bukti bukti untuk Kitab Suci;
  3. Mereka adalah pengingat akan ketahanan dan takdir;
  4. Mereka menunjukkan keadaan dan sejarah nenekmoyang, kekayaan ilmu mereka, dan kejeniusan pemikiran mereka.

Berikut penjelasan dari perbedaan antara bangsa Arab dengan bangsa Barat mengenai Egyptologi nya, :

Bangsa Arab Bangsa Barat
Menganggap bahwa ajaran Mesir Kuno adalah sumber inspirasi dari ilmu pengetahuan Menganggap bahwa ajaran Mesir kuno sudah tidak relevan
Fokus pada pencarian ilmu pengetahuan kuno, terutama mengenai alkemi (ilmu-ilmu protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika, astrologi, seni, semiotika, metalurgi, kedokteran, mistisisme, dan agama.) Berfokus pada studi filologi dan mengumpulkan barang antik untuk menjadi dasar studi sejarah
Untuk memahami sejarah manusia secara global Untuk memvalidasi teks-teks agama, seperti Bible

 

Yang kedua, kontak dengan Mesir. Mesir telah menjalin hubungan dengan negara tetangganya semenjak zaman pra-sejarah. Catatan sejarah menyebutkan bahwa orang-orang asing dengan berbagai ras dan kelas menetap di Mesir, termasuk di dalamnya bangsa Arab. Jauh sebelum masa Islam, bangsa Arab telah bermigrasi ke Afrika Utara, dan hal ini terus berlanjut bahkan setelah datangnya Islam. Selain itu, disebutkan bahwa kebudayaan Mesir Kuno mempengaruhi kehidupan bangsa Arab. Seperti penggunaan nama-nama Pharaonic, partisipasi bangsa Arab dalam pelayanan di kuil Mesir Kuno dan pemerintahan, dan penemuan ukiran-ukiran Mesir Kuno di Jazirah Arab.

Kemudian yang ketiga adalah pengaruh Qur’an dan Hadits. Dorongan muslim Arab untuk mempelajari sejarah Mesir Kuno berasal dari keyakinan agama, terkhusus karena Al-Qur’an. Mereka mempercayai bahwa umat manusia memiliki asal-usul yang sama, dan adanya keberagaman di dunia ini untuk mengenal satu sama lain. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga memuji Mesir dalam hadits-haditsnya. Beliau menyebutkan bahwa bangsa Arab memiliki hubungan dengan Mesir melalui Hajar, ibu dari Nabi Ismail AS. yang dianggap sebagai ayah dari bangsa Arab.

Yang keempat, dari segi penaklukan Mesir. Penaklukan Mesir terjadi masa kekhalifahan Umar bin Khattab, ketika 4000 pasukan Islam sampai di Babylon, benteng Romawi di Old Cairo yang berlanjut ke beberapa pertempuran dan negosiasi yang berakhir dengan pengambilalihan Mesir pada tahun 20H / 641M. Masyarakat asli Mesir tidak terlibat dalam pertempuran ini, maka dari itu mereka tidak dianggap sebagai musuh. Bahkan disebutkan bahwa penaklukan Mesir ini tidak mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat asli Mesir, baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan.

Yang kelima adalah pengaruh dari penamaan Koptik. Para penulis Arab Muslim saat itu menggunakan kata qibt / qypt (Koptik) untuk menunjukkan pribumi Mesir, baik dalam konteks Mesir Kuno maupun di masa mereka. Nama ini sudah dituliskan di dalam Talmud, jauh sebelum penaklukan Mesir oleh Muslim. Dan nama ini terus digunakan untuk menyebut masyarakat Mesir pada umumnya, tanpa membedakan agamanya. Seperti pada masa dinasti Mamluk, banyak orang Muslim yang disebut sebagai orang Koptik.

Selanjutnya yang keenam adalah penamaan Mesir. Nama yang digunakan dalam literatur Arab untuk menyebut Mesir adalah kata “Misr”, yang berarti negara, pusat perkotaan, dan perbatasan dalam bahasa Arab, yang kemungkinan merupakan turunan dari bahasa Mesir Kuno “mdr” yang berarti perbatasan yang dilindungi atau yang diberi tembok. Namun, ada pula beberapa versi untuk penyebutan Mesir, seperti “Maqdunia” dan “Jizla”.

Lalu, sumber pembelajaran pemantik dalam pembahasan ini adalah:

  1. Pengamatan langsung dan cerita rakyat;
  2. Cendekiawan Mesir;
  3. Sumber-sumber klasik;
  4. Israiliyyat (Judaica);
  5. Sumber-sumber Arab.

 

Bahan Diskusi Rakit

Penulis: Shafira Nafidzatur Rahmah

Pengukuhan Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S., Sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Budaya Arab UGM.

Yogyakarta, 3 Oktober 2023 – Dosen Departemen Antarbudaya, Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S. dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Budaya Arab, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada di Balai Senat, Gedung Pusat UGM. Dalam pidato Guru Besarnya, beliau menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Kontiguitas Budaya Arab dengan Budaya Barat, Perspektif Interaksionisme Simbolis”.

Sebelum acara dimulai, MC membacakan profil singkat dari Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S., mulai dari riwayat hidup, pendidikan, hingga karir-karir beliau. Pengukuhan Guru Besar yang dilaksanakan di Balai Senat UGM ini dibuka langsung oleh Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum, M.Sc., dan dilanjutkan dengan pembacaan kutipan surat keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Republik Indonesia yang telah ditetapkan di Jakarta, 14 Juni 2023 oleh Nadiem Anwar Makarim, Mendikbudristek. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pidato pengukuhan Guru Besar oleh beliau sendiri, Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S.

Dalam pidatonya, beliau menyampaikan bahwa bangsa Arab merupakan satu entitas masyarakat plural dan multikultural yang bermukim di benua Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, serta sejumlah kecil di Australia. Bangsa arab yang berada di dunia Arab dan di luar dunia Arab bukan sekedar mozaik sekte, suku, komunitas lokal, dan entitas regional. Tetapi juga mereka membawa potensi persatuan dan perpecahan. Kondisi bangsa Arab dalam perjalanan panjang sejarahnya terus menerus menarik perhatian dunia, karena dalam diri mereka terdapat segala macam polaritas dan orientasi yang saling berkontiguitas. Di dunia Arab terdapat Persatuan versus Fragmentasi, Tradisi versus Modern, Sakral versus Sekuler, dan Timur versus Barat.

Prof. Fadlil menyatakan “Secara Geobudaya, bangsa Arab selalu ditempatkan sebagai Timur yang selalu berjuang menuju kemajuan. Sedangkan bangsa Eropa dan Amerika selalu diposisikan sebagai Barat yang sedang menikmati kemajuan dan bahkan sedang menuju puncak kejayaan di segala bidang, terutama di bidang kebudayaan dan sastranya”.

Pidato beliau memuat lima masalah pokok yang akan dijawab dan dibahas. Pertama, terjadi kontiguitas budaya Arab dengan budaya Barat dalam fakta sastra dan fakta sosio-historis. Kedua, entitas sastra dan budaya Arab pra-modern disimpulkan melalui lebah dan madu. Ketiga, kemunculan sastra Kristen di dunia Arab dan adanya fakta simbolis terjalinnya persahabatan intelektual antara Arab, Islam, dan Kristen. Keempat, simbolisme pedang dan pena dalam sastra dan budaya Arab pra-modern. Kelima, kompleksitas kehidupan masyarakat Arab yang disimpulkan dalam empat novel modern, yang keempatnya berkontiguitas dengan budaya Barat.

“Kontiguitas Budaya Arab dengan Budaya Barat dalam Perspektif Interaksionisme Simbolis dipandang sebagai dua entitas budaya yang berbeda yang masing-masing berfungsi menyoroti dunia Arab dan dunia Barat sebagai realitas kultural”, tegas Prof. Fadlil.

Di penghujung acara, dilakukan pengalungan samir Guru Besar oleh Sekretaris Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada kepada beliau, Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S., dan dilanjutkan mushafahah segenap keluarga besar Prof. Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S. dengan sejumlah Guru Besar Universitas Gadjah Mada serta tamu undangan yang hadir di dalam ruangan tersebut.

 

Simak selengkapnya di Youtube 

Naskah pidato pengukuhan dapat diunduh disini

Penulis: Muhamad Muhyiddin